Akses Tambang Emas Masmindo Luwu Diblokade Lagi, Asosiasi Buruh Minta Perusahaan Tegas
LUWU, Trendify.id – Aksi pemalangan jalan menuju lokasi operasional PT Masmindo Dwi Area (MDA) kembali memanas di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Selasa (24/2/2026).
Penutupan akses jalan yang dilakukan segelintir warga Dusun Minanga ini memicu reaksi keras, terutama dari kalangan buruh yang merasa dirugikan.
Informasi yang dihimpun, aksi ini dipicu oleh tuntutan oknum warga terkait ketenagakerjaan.
Mereka mendesak agar anggota keluarga yang bekerja sebagai helper segera naik jabatan menjadi operator alat berat jenis Articulated Dump Truck (ADT).
Tak hanya itu, mereka juga menuntut perusahaan mempekerjakan sekitar 30 orang dari kelompok mereka.
Aksi ini dinilai janggal karena bersifat tebang pilih. Sejumlah karyawan dilarang melintas hingga terpaksa pulang ke rumah, namun beberapa kendaraan perusahaan tertentu justru dibiarkan lewat.
“Terpaksa balik ke rumah saja karena dilarang lewat. Tapi anehnya, ada mobil perusahaan yang tetap bisa masuk,” keluh salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi situasi yang berulang ini, Ketua Asosiasi Buruh Tanah Luwu, Zainuddin, mendesak manajemen PT Masmindo untuk bersikap tegas menghadapi tekanan yang dinilai tidak prosedural tersebut.
Zainuddin meminta perusahaan menerapkan aturan ketat, termasuk soal pengupahan.
“Perusahaan harus tegas. Jangan sampai ada karyawan yang tetap menerima gaji padahal tidak masuk kerja dengan alasan jalan ditutup. Ini bisa memicu kecemburuan dan sikap apatis dari pekerja lain,” tegas Zainuddin.
Zain juga menyentil soal solidaritas antarpekerja. Menurutnya, ribuan karyawan tidak boleh kalah oleh aksi segelintir orang yang menghambat nafkah banyak orang.
“Karyawan harus bersatu. Kadang yang memalang itu cuma dua orang, sementara yang mau kerja ada ribuan. Jangan sampai kepentingan kelompok kecil mengorbankan hajat hidup orang banyak,” tambahnya.
Dampak ke Tiga Kecamatan
Aksi pemalangan ini pun mulai meresahkan warga di tiga kecamatan sekitar, yakni Latimojong, Bajo, dan Bajo Barat. Banyak warga yang bergantung pada aktivitas tambang merasa dirugikan secara ekonomi.
“Kasihan karyawan yang tidak tahu apa-apa. Mereka sudah jauh-jauh datang tapi harus balik karena akses ditutup,” ujar seorang warga Bajo.
Sementara itu, Ketua Pokja Sofyan Thamrin mengingatkan bahwa segala bentuk tuntutan seharusnya dilakukan melalui dialog dan sesuai regulasi.
Ia menekankan bahwa investasi di Luwu harus memberi manfaat, namun tetap mengacu pada prosedur dan kompetensi, bukan lewat tekanan di lapangan.
“Kita ingin investasi jalan dan tenaga lokal terserap, tapi semua ada prosedurnya. Jangan sampai tekanan seperti ini justru merusak stabilitas daerah dan iklim investasi kita,” pungkas Sofyan. (*)








