Sri Istri Sirajuddin Kru Kapal Musaffah II Kenanf Kebaikan Suami, Berharap Anaknya Kuliah di Luar Negeri
LUWU, Trendify – Dua awak Kapal Mussafah 2 yang mengalami insiden saat melakukan pelayaran internasional menuju Selat Hormuz, tercatat sebagai warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Selain Capten Miswar (50), Chief Engineer Sirajuddin merupakan warga asli Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan.
Suasana haru menyelimuti rumah yang terletak tepat di depan Kantor Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu.
Lokasi rumah Sirajuddin sekitar 30 menit perjalanan dari Ibukota Luwu, Kota Belopa. Berada persis di bahu jalan Poros Makassar-Palopo.
Saat Tribun-Timur.com datang, istri Sirajuddi, Sri Dwi Aisyah berusaha menahan tangisnya.
Di mata sang istri, Sirajuddin adalah sosok kepala rumah tangga, sekaligus tumpuan hidup satu-satunya.
Apalagi usai kedua pasangan suami-istri ini telah kehilangan orang tua masing-masing.
Sehingga Sirajuddin adalah pilar utama bagi Sri dan kedua putri mereka, Najwa Ajlea dan Azkaira Nur Malaika.
“Dia sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Dia harapan saya satu-satunya karena kami berdua sudah tidak punya orang tua lagi,” ujar Sri Dwi Aisyah dengan nada lirih, Senin (9/3/2026) kepada awak media sekitar pukul 16.51 Wita sore.
Sri mengenang suaminya sebagai pria yang sangat peduli terhadap sesama.
“Ke temannya dia care, apalagi ke istri dan anaknya,” akunya.
Ia menambahkan, setiap kali pulang ke kampung halaman, ada satu permintaan sederhana yang tak pernah absen.
“Sebelum berangkat melaut lagi, pasti selalu minta dibuatkan sambal,” akunya.
Menurut Sri, meski bekerja jauh di perairan Timur Tengah, pikiran Sirajuddin selalu tertambat pada masa depan anak-anaknya.
Ia memiliki cita-cita besar agar putri-putrinya bisa menempuh pendidikan di luar negeri.
“Pesan terakhirnya ke anak-anak, dia minta mereka rajin belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dia ingin sekali mereka kuliah di luar negeri,” kenang Sri.
Kata Sri, suaminya terakhir kali pulang ke Desa Temboe pada Agustus 2025.
Selama sebulan penuh, ia menghabiskan waktu bermain bersama kedua putrinya sebelum kembali melaut demi mewujudkan mimpi keluarga kecilnya.
Sri menambahkan, pihak keluarga kini terus memantau informasi dari KBRI.
Informasi terakhir menyebutkan bahwa proses pencarian masih berlangsung.
Sri berharap pihak perusahaan Abu Dhabi Ports bertanggung jawab penuh dan pencarian tidak dihentikan hingga suaminya ditemukan.
“Harapan saya dia selamat dan cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Harus dicari terus sampai dapat,” tegas Sri.
Adik Sirajuddin, Arif, mengaku kakaknya sudah bekerja selama hampir 5 tahun di Kapal Mussafah 2.
Di kapal, adiknya bekerja sebagai chief enggineer.
Sebagai chief engineer, Sirajuddin merupakan perwira senior dan pemimpin tertinggi departemen mesin di kapal.
“Memang dulu sekolah pelayaran, di SBM Bahari Parepare,” akunya.
Kiprah kakaknya sebagai pelaut, sambung Arif, sudah berlangsung sejak tahun 2000.
Itu berarti Sirajuddin sudah melaut selama 26 tahun.
“Cita-citanya memang menjadi pelaut. Karena memang sekolah pelayaran di Parepare. Kalau tidak salah angkatan pertama atau kedua,” bebernya.
Kata Arif, Sirajuddin merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara.
Ia dikenal sangat baik dengan keluarga dan masyarakat.
“Dia senang bermain bola di Lapangan Temboe, sama anak muda di sini. Sering kasih hadiah kalau ada acara, biasa sumbang juga untuk kelancaran acara,” ujarnya.
Kakaknya itu, menurut Arif, sering pulang ke kampung halaman ketika masuk waktu cuti.
“Kadang tiga bulan kembali, satu bulan di rumah, baru pergi lagi,” tandasnya.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyampaikan, insiden tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Lokasinya berada di perairan Selat Hormuz, di antara wilayah Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman.
Informasi awal mengenai kejadian itu diterima Kemlu melalui Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi dan Muscat.
“Pada 6 Maret 2026, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat menerima laporan terkait insiden yang menimpa satu tugboat bernama Musafah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab,” demikian pernyataan resmi Yvonne yang dikutip Senin (9/3/2026).
Kapal Mussafah 2 diketahui memiliki tujuh awak kapal, termasuk empat WNI anak buah kapal (ABK), serta membawa enam teknisi, di antaranya satu WNI.
Saat kejadian, kapal tersebut sedang melakukan pengecekan terhadap kapal kontainer Safin Prestis yang mengalami kerusakan.
“Berdasarkan saksi mata, Musafah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Pada saat kejadian, empat WNI ABK berada di kapal dan satu WNI teknisi sedang berada di kapal kontainer Safin Prestis,” lanjutnya.








