Porprov Sulsel Tanpa Sepak Bola Putri, 18 Atlet Luwu Utara Kecewa Berat
LUWU UTARA, Trendify.id – Kabar pembatalan cabang olahraga (cabor) sepak bola putri di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVIII Sulsel Bone-Wajo 2026 menjadi pukulan bagi kontingen Luwu Utara.
Terlebih, 18 atlet sepak bola putri Luwu Utara telah menjalani persiapan sejak Januari lalu
Ini dilakukan untuk tampil maksimal pada ajang olahraga empat tahunan tingkat provinsi tersebut.
Skuad kebanggan Bumi Lamaranginang itu diketahui telah memastikan diri lolos ke Porprov.
Luwu Utara tergabung di Grup B bersama Kabupaten Bulukumba, Barru, dan Makassar.
Namun, rencana bertanding itu kini batal setelah adanya keputusan untuk tidak mempertandingkan sepak bola putri pada Porprov XVIII Sulsel.
Keterbatasan anggaran ditengarai menjadi salah satu penyebab batalnya pertandingan tersebut.
Keputusan itu telah diterima pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Luwu Utara.
Jaraknya berkisar 1,5 bulan menjelang kick off Porprov Bone-Wajo digelar.
Keputusan itu langsung memunculkan kekecewaan dari pengurus, official, hingga para pemain.
Pengurus Cabor Sepak Bola putri Luwu Utara, Hendrik Pareang, menilai keputusan tersebut merugikan para atlet yang telah menjalani proses persiapan cukup panjang.
Menurutnya, para pemain telah menjalani latihan sejak Januari dengan target tampil di Porprov.
Kemudian setelah lolos, dilakukan pemusatan latihan atau training center untuk menempa taktik dan fisik pemain.
“Saya kira Asprov PSSI bertanggung jawab atas kegiatan ini. Kenapa dia adakan Pra Porprov baru tidak ada Porprov. Luar biasa anggaran digunakan untuk hadapi Pra Porprov. Semuanya pupus dengan surat rekomendasi ketidakikutsertaan sepak bola putri,” kata Hendrik, Senin (21/9/2026) siang.
Hendrik mengatakan kerugian terbesar dirasakan 18 atlet yang telah menjalani program latihan khusus bersama tim pelatih.
Para pemain, kata dia, telah mengorbankan waktu dan tenaga selama berbulan-bulan demi mempersiapkan diri menghadapi Porprov.
“Luwu Utara sudah siap hadapi Porprov Bone-Wajo, tetapi munculnya sebuah wacana tentang pembatalan keikutsertaan sepak bola putri di Porprov ini maka banyak persoalan yang muncul,” ungkapnya.
Ia menyebut informasi pembatalan tersebut membuat pemain yang telah menjalani training center kecewa.
“Pemain sudah kami training center, baru muncul informasi ini. Atlet semuanya kecewa, begitu pun pengurus dan manajemen tim yang sudah mempersiapkan kegiatan ini,” tambahnya.
Menurut Hendrik, cabor sepak bola putri harusnya menjadi perhatian saat Porprov mendatang.
Sebab, ajang itu bisa menjadi awal bagi Asprov PSSI Sulsel untuk menemukan talenta berbakat sebelum turnamen Pra PON berlangsung tahun depan.
“Ini sebenarnya wadah bagi pemain untuk menunjukkan kebolehannya. Apalagi tidak lama lagi Pra PON, sehingga PSSI Sulsel bisa melihat aksi talenta baru di turnamen Porprov ini,” ungkapnya.
Hendrik menilai pembatalan tersebut juga menjadi persoalan bagi daerah-daerah lain yang sebelumnya telah dinyatakan lolos dan bersiap mengikuti kompetisi.
Tercatat ada delapan daerah yang dinyatakan lolos pada cabor sepak bola putri.
Di antaranya Kabupaten Bone, Jeneponto, Parepare, Pangkep, Bulukumba, Luwu Utara, Makassar, dan Barru.
Menurut Hendrik, para pengurus dari delapan daerah tersebut kini membangun komunikasi untuk menyikapi keputusan pembatalan tersebut.
“Kami sudah buat grup WhatsApp sebagai wadah tempat kami komunikasi di Sulawesi Selatan yang lolos sepak bola putri. Rencana teman-teman mau menghadap ke Gubernur Sulsel, DPRD Sulsel, Dispora Sulsel, KONI dan PSSI Sulsel,” ungkapnya.
Hendrik menambahkan, bukan tak mungkin kedelapan daerah tersebut akan melakukan aksi protes di Makassar.
“Kita yang jauh tetap memerhatikan dan mendukung langkah teman-teman,” tandasnya. (*)








