Diduga Asap Karhutla Kiriman Papua Selimuti Luwu Raya, PT BMS Bagikan Masker

Karyawan PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) yang beroperasi di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, membagikan masker ke pengendara di Jl Poros Makassar-Palopo.

LUWU, Trendify.id – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Luwu Raya, Sulawesi Selatan, dalam beberapa hari terakhir diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua.

Dampaknya tak hanya dirasakan warga yang beraktivitas di luar ruangan, tetapi juga mengganggu jarak pandang hingga memengaruhi operasional penerbangan.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi BMKG Andi Jemma Masamba, Luwu Utara, Muhammad Zaqi Fikanza Takdir, mengatakan pergerakan asap dari Papua mengarah ke barat laut hingga utara sehingga sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi dan Maluku, turut terdampak.

“Untuk kabut asap di Luwu Raya beberapa hari belakangan ini disebabkan oleh asap karhutla dari wilayah Papua yang menyebar ke arah barat laut-utara sehingga sebagian wilayah seperti Sulawesi dan Maluku juga terdampak oleh kabut asap tersebut,” kata Zaqi.

Menurut Zaqi, kondisi udara pada Jumat (16/10/2026) mulai membaik dibandingkan sehari sebelumnya. Awan mulai terlihat di sejumlah wilayah, meski sisa kabut asap masih teramati.

Ia menyebut kondisi terparah terjadi pada Kamis (15/10/2026), ketika kabut asap mengganggu jarak pandang dan berdampak pada penerbangan.

“Untuk kondisi udara paling parah itu terjadi kemarin sehingga beberapa pesawat sempat cancel,” ujarnya.

Meski kondisi udara mulai membaik, Zaqi mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai kemungkinan kabut asap kembali menyelimuti Luwu Raya. Pemantauan citra satelit dan kondisi atmosfer diperlukan untuk mengikuti perkembangan sebaran asap.

### PT BMS Bagikan Masker di Kecamatan Bua

Di tengah kondisi tersebut, PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) membagikan masker kepada masyarakat dan pengguna jalan di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.

Kegiatan yang dimulai pada Rabu (14/10/2026) itu menyasar pengendara dan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Pembagian masker juga menyasar masyarakat yang bermukim di sekitar area pabrik smelter serta sejumlah sekolah di Kabupaten Luwu.

Site Manager PT BMS, Muh. Aldin, mengatakan pembagian masker pada hari pertama dipusatkan di perempatan lampu merah Kecamatan Bua.

“Pembagian masker dipusatkan di perempatan lampu merah Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu,” kata Aldin.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang beraktivitas di tengah kondisi udara berkabut akibat asap.

“Kami harapkan ini dapat membantu masyarakat mengurangi risiko paparan partikel halus yang terkandung dalam asap, terutama bagi mereka yang setiap hari harus beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

PT BMS merupakan perusahaan pengolahan mineral nikel di bawah Kalla Group. Perusahaan tersebut telah mengoperasikan smelter feronikel dan sedang membangun smelter nikel sulfat untuk kebutuhan baterai.

Perusahaan juga menjalankan sejumlah program sosial, termasuk penanganan sampah dan pemberdayaan masyarakat melalui perekrutan tenaga kerja lokal.

### Warga Diimbau Mengurangi Paparan Asap

Kabut asap dapat membawa partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memantau informasi resmi mengenai kondisi cuaca dan kualitas udara. Jika kabut asap kembali menebal, aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi.

Penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan benar dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain dan masker medis biasa tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara terhadap partikel asap berukuran kecil.

Warga juga perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk.

Meski kondisi udara di Luwu Raya mulai menunjukkan perbaikan, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan dan mengantisipasi gangguan jarak pandang apabila kabut asap kembali meningkat. (*)

Pasangiklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *