Mahasiswa Sejarah UNM Gali Toleransi Lewat Falsafah Bugis-Makassar, Hadirkan Penghayat Tolotang
MAKASSAR, Trendify.id – Puluhan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah berkumpul untuk mempraktikkan toleransi secara nyata di Ruang AD 302 Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (19/11/2025).
Melalui kegiatan bertajuk ‘Dialog Harmoni Lintas Agama’, mereka mengupas tuntas tiga nilai luhur kearifan lokal Bugis-Makassar: Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghargai/memuliakan), dan Sipakainge’ (saling mengingatkan).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Sobat Perdamaian dan Lembaga Pengurus Perpustakaan Prodi Pendidikan Sejarah.
Fasilitator kegiatan, Nursipatma, menjelaskan dialog ini dirancang untuk menciptakan ruang inklusif.
“Ini juga sebagai penguatan mata kuliah Multikulturalisme. Jadi mahasiswa tidak hanya paham konsep keberagaman dari buku, tetapi mempraktikkannya langsung dalam interaksi lintas iman,” ujar alumni Gerakdampak Academy itu.
Ruang Aman di Kampus
Diskusi semakin hidup saat 35 peserta yang hadir mulai berbagi pengalaman pribadi.
Nursipatma mengaku, topik sensitif seperti pengalaman diskriminasi hingga pentingnya menciptakan ruang aman di lingkungan kampus sengaja dibahas secara dewasa dengan balutan nilai Sipakatau.
“Kegiatan ini sukses membuka wawasan baru, mengikis stereotip, dan menjadi upaya konkret merawat harmoni agama di lingkup Prodi Pendidikan Sejarah UNM,” bebernya.
Hadirkan Penghayat Kepercayaan
Daya tarik utama dialog ini ada pada komposisi narasumbernya.
Menurut Nursipatma, panitia mengundang Dosen Ahli dari UNM, Najamuddin untuk menjadi pembicara.
Selain itu, dua mahasiswa penghayat kepercayaan dan seorang mahasiswa Kristen untuk berbagi perspektif.
Suasana dialog berlangsung hangat dan membuka mata para peserta.
Kata Nursipatma, narasumber dari penghayat kepercayaan secara terbuka menjelaskan ajaran dan praktik spiritual komunitas mereka.
Hal itu demi menepis stigma negatif yanh kerap kali dialamatkan kepada mereka penghayat kepercayaan.
“Ini kerap disalahpahami atau mendapat stigma negatif,” ujar Nursipatma.
Ia menambahkan, kedua penghayat kepercayaan itu menyatakan kesediaannya menjadi jembatan jika ada mahasiswa yang ingin berkunjung langsung melakukan riset atau silaturahmi ke komunitas Tolotang atau Mamasa.
Sementara itu, narasumber dari mahasiswa Kristen menekankan prinsip kasih sebagai pondasi relasi lintas agama, mengajak peserta melihat perbedaan sebagai ruang belajar, bukan pemisah.
Acara yang dibuka dengan doa lintas agama ini ditutup dengan refleksi bersama. (*)








