Pengurus PCNU Palopo Rela Patungan Buat Pergi Muktamar NU di Jombang

Ketua PCNU Palopo, Sulawesi Selatan, Zuhri Abunawas. Untuk mendukung keberangkatan, PCNU Palopo juga menggalang dukungan secara sukarela dari para kader dan pihak yang ingin ikut menyukseskan kehadiran rombongan Palopo di Muktamar NU.

PALOPO, Trendify.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Palopo, Sulawesi Selatan, mulai mempersiapkan keberangkatan delegasi untuk mengikuti rangkaian Muktamar NU ke-35.

Lokasi Muktamar NU berada di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27-31 Agustus 2026.

Ketua PCNU Palopo, Zuhri Abunawas, mengatakan rombongan dari Palopo akan berangkat secara bertahap menuju lokasi muktamar.

“Alhamdulillah, nanti malam rombongan akan berangkat dari Gedung NU menuju Makassar,” kata Zuhri, Senin (24/8/2026) siang.

Rombongan kemudian dijadwalkan melanjutkan perjalanan dari Makassar menuju Surabaya menggunakan pesawat pada Selasa (25/8/2026) malam.

Zuhri mengatakan, tempat tinggal rombongan selama berada di Surabaya akan menyesuaikan dengan lokasi kedatangan masing-masing peserta.

Untuk mendukung keberangkatan, PCNU Palopo juga menggalang dukungan secara sukarela dari para kader dan pihak yang ingin ikut menyukseskan kehadiran rombongan Palopo di Muktamar NU.

“Untuk meringankan biaya yang dikeluarkan oleh teman-teman yang mau melihat perhelatan Muktamar NU, seikhlasnya dalam bentuk uang. Ada juga dalam bentuk fasilitas transportasi dan perbekalan selama perjalanan,” ujarnya.

Lima pengurus PCNU Palopo dijadwalkan ikut dalam rombongan menuju Muktamar NU 2026.

Mereka yakni Wakil Ketua Syuriah Dr KH Rukman AR Said, Lc, M.Th.I dan Katib Syuriah Drs H Ibnu Hajar, M.Pd.I.
Kemudian Wakil Ketua Tanfidziyah Dr Akhmad Syarifuddin, M.Si dan Prof Dr Muhaemin, MA, serta Wakil Bendahara Dr Ahmad Nouruzzaman, ME.

Zuhri mengatakan, dalam menentukan pilihan pada muktamar, para pemilik suara memiliki keleluasaan.

Menurutnya, dinamika dalam pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU merupakan bagian dari proses organisasi.

Terlebih, seluruh kandidat yang maju merupakan kader NU.

“Walaupun Muktamar NU memiliki dinamikanya sendiri dan semua calon Rais Aam maupun Ketum adalah orang NU,” katanya.

Namun, menurut Zuhri, kedekatan, ikatan emosional, hingga faktor kedaerahan tetap dapat menjadi pertimbangan para pemilik suara dalam menentukan pilihan.

“Faktor lain tentu sangat menentukan di bilik suara, khususnya untuk Ketum,” ujarnya.

Menjelang Muktamar NU 2026, PCNU Palopo berharap kepemimpinan PBNU ke depan dapat memperkuat hubungan dengan kader di daerah.

Zuhri berharap Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih lebih sering menyapa dan berinteraksi dengan kader NU di daerah.

“Kader daerah sangat ingin disapa oleh petinggi NU, Rais Aam dan Ketum. Minimalnya di tingkat PWNU ketika ada pertemuan atau pengkaderan,” katanya.

Ia juga berharap kepemimpinan baru PBNU segera melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi setelah muktamar.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus memperkuat peran NU memasuki abad keduanya.

“Rekonsiliasi dan konsolidasi pasca-Muktamar. Dan paling penting adalah semakin memperhatikan bagaimana NU digdaya di abad keduanya,” pungkas Zuhri.

Pasangiklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *