Dua Warga Luwu Korban Ketegangan Amerika-Israel dengan Iran, Kapal Musaffah II Diduga jadi Target Serangan Drone

Ket: CAPTAIN MISWAR - Marliani Ahmad (47) memegang bingkai foto dirinya dengan sang suami Captain Miswar Maturusi nakhoda Kapal Mussafa 2 yang dilaporkan meledak di Selat Hormuz. Hingga kini keluarga masih diselimuti kegelisahan, karena belum ada kabar kondusi dari perusahaan Abu Dhabi Potrs tempat Miswar bekerja dan KBRI.

LUWU, Trendify.id – Dua warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.

Keduanya diduga menjadi korban insiden serangan drone di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran yang telah berlangsung sekitar sepekan terakhir.

Konflik tersebut turut berdampak pada aktivitas pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran internasional, sekitar 20 persen peradaran minyak global melalui lokasi ini.

Sejumlah laporan menyebutkan beberapa kapal mengalami ledakan akibat serangan rudal maupun drone.

Salah satu kapal yang diduga terdampak adalah kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab milik perusahaan Abu Dhabi Ports.

Kapal tersebut diketahui memiliki tujuh orang awak kapal, dua di antaranya merupakan warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Kedua kru tersebut adalah Capten Miswar Maturusi warga Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan.

Serta Chief Engineer Sirajuddin, warga Temboe, Kecamatan Larompong Selatan.

Keduanya dilaporkan hilang setelah insiden yang diduga serangan drone saat kapal berada di jalur pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz.

Istri Capten Miswar, Marliani Ahmad (47), mengatakan hingga kini keluarga belum bisa memastikan kondisi suaminya.

Informasi sementara yang diterima menyebutkan suaminya masih dinyatakan hilang.

Marliani mengungkapkan, kabar mengenai insiden tersebut pertama kali diterima keluarga pada Jumat (7/3/2026) sekitar pukul 10.00 WITA dari rekan kerja suaminya di dunia pelayaran.

“Informasi itu disampaikan oleh rekan satu perusahaan suami saya yang menghubungi melalui ponsel anak kami,” ujar Marliani saat ditemui awak media, Senin (9/3/2026).

 

Ket: CAPTAIN MISWAR – Bingkai foto keluarga Captain Miswar Paturusi (50) nakhoda Kapal Mussafa 2 yang dilaporkan meledak di Selat Hormuz. Hingga kini keluarga masih diselimuti kegelisahan, karena belum ada kabar kondusi dari perusahaan Abu Dhabi Potrs tempat Miswar bekerja dan KBRI.

Ia mengaku, komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis (5/3/2026) pagi.

Saat itu Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya dan memberi tahu rencana pelayaran yang akan dilakukan.

Siang sekitar pukul 13.00 Wita, Miswar diketahui masih sempat membaca pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan.

Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.

“Pesannya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” ungkap Marliani.

Selama ini Miswar diketahui bekerja di pelabuhan Abu Dhabi sebagai pemandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.

Menurut Marliani, insiden yang menimpa suaminya terjadi saat kapal yang dinakhodai Miswar berada di ujung Selat Hormuz dan sudah mendekati wilayah Oman, negara tetangga Iran yang dipisahkan oleh Selat Hormuz.

Kapal tersebut diduga terkena serangan drone tempur, meskipun hingga kini belum diketahui asal drone tersebut.

Sementara itu, keluarga juga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian tersebut.

Bahkan, istri dari rekan satu kapal Miswar, yakni CE. Sirajuddin, telah datang ke rumah Marliani untuk mencari kabar mengenai kondisi suaminya.

“Tadi ada istri dari Bapak Sirajuddin datang ke rumah bersama anaknya. Beliau juga belum menerima informasi yang pasti dan masih menunggu kabar dari perusahaan maupun pihak KBRI,” katanya.

Marliani menjelaskan bahwa suaminya telah lama berkecimpung di dunia pelayaran.

Diperkirakan Capten Miswar telah bekerja di sektor tersebut selama lebih dari dua dekade.

“Kalau di perusahaan sekarang mungkin sekitar 10 tahun,” aku Marliani.

Sebelum hilang kontak, Miswar juga sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi.

Hingga saat ini keluarga mengaku belum menerima keterangan resmi secara tertulis dari pihak perusahaan.

Istri Sirajuddin, Sri Dwi Aisyah, mengaku komunikasi dengan suaminya putus pada Kamis (5/3/2026).

Itu sekaligus menjadi memori yang terus terngiang di benak keluarga kecilnya.

Sirajuddin memiliki dua anak perempuan. Anak pertamanya diberi nama Najwa Ajlea dan yang kedua Azkaira Nur Malaika.

Dalam percakapan telepon terakhirnya, Sirajuddin berpamitan kepada istrinya karena akan menarik kapal ke Selat Hormuz.

Ia pun sempat memperingatkan, komunikasi akan terputus karena tak adanya jaringan.

“Hari Kamis itu dia bilang, ‘Ma, sehari mau perjalanan, tidak ada sinyal karena mau berlayar tarik kapal ke Selat Hormuz’. Dia juga sempat video call dengan anaknya yang kecil,” ungkap Sri Dwi Aisyah saat ditemui Tribun-Timur.com, di rumahnya yang berada persis di bahu jalan Poros Makassar-Palopo, Senin (9/3/2026) sekitar pukul 16.51 Wita sore.

Menurut Sri, kepada putri bungsunya, Sirajuddin meninggalkan pesan menyentuh.

“Kalau Mama salat, ikut juga salat ya,” ujar Sri dengan lirih sambil menahan tangis.

Ia menambahkan, informasi akan adanya insiden yang dialami Kapal Mussafah 2 di Selat Hormuz ia dapati dari teman sekolah suaminya.

“Teman SD-nya datang tanya, benerkah nama suami ta Sirajuddin? Pas saya bilang, iya benar, dia bilang ‘Sabar ya Bu, ada musibah’,” tuturnya.

Menurut Sri, pihak keluarga kini terus memantau informasi dari KBRI.

Informasi terakhir menyebutkan bahwa proses pencarian masih berlangsung.

Sri berharap pihak perusahaan Abu Dhabi Ports bertanggung jawab penuh dan pencarian tidak dihentikan hingga suaminya ditemukan.

“Harapan saya dia selamat dan cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Harus dicari terus sampai dapat,” tegas Sri.

Pasangiklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *