Kisah Royan di Luwu, Empat Orang Tinggal di Kolong Rumah Rapuh dan Bertahun-tahun Tanpa Jamban
LUWU, Trendify.id – Setiap malam, Royan (56) bersama istrinya, Sunarti (45), dan dua anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar harus beristirahat di bawah kolong rumah panggung tua yang nyaris lapuk dimakan usia.
Keluarga itu tinggal di Dusun Sumabu I, Desa Kamanre, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Rumah panggung milik mereka sebenarnya masih berdiri.
Namun, kondisi lantai kayu yang rapuh membuat Royan dan keluarganya tak lagi berani menempati bagian atas rumah karena khawatir ambruk sewaktu-waktu.
Akibatnya, kolong rumah disulap menjadi tempat tinggal sederhana. Ruangan sempit itu dibagi menjadi beberapa bagian menggunakan kain dan papan bekas sebagai sekat.
Di sana terdapat ruang tamu berukuran sekitar 3×3 meter, kamar anak, ruang tidur orang tua, dapur, hingga area mandi dan mencuci yang serba terbatas.
Namun kesulitan keluarga ini tidak berhenti pada kondisi rumah yang memprihatinkan.
Selama bertahun-tahun, Royan dan keluarganya hidup tanpa jamban.
Untuk buang air besar, mereka terpaksa menuju kebun di belakang rumah. Tanah digali, digunakan, lalu ditimbun kembali.
Sesekali mereka memanfaatkan sungai yang berada tidak jauh dari permukiman.
“Biasanya ke belakang atau di kebun lakukan penggalian lalu ditimbun, kadang juga di sungai,” kata Royan kepada awka media, Senin (15/6/2026).
Kondisi tersebut membuat keluarga Royan hidup tanpa akses sanitasi yang layak. Padahal, keberadaan jamban merupakan kebutuhan dasar yang berhubungan langsung dengan kesehatan keluarga.
Saat musim hujan tiba, kekhawatiran lain kembali menghantui mereka.
Atap rumah yang mulai bocor dan bangunan yang semakin lapuk membuat keluarga ini waswas ketika hujan deras disertai angin kencang melanda.
“Kalau hujan dan angin kencang, kami kadang takut dengan kondisi rumah yang ditempati,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, Royan tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya sebagai buruh tani.
Penghasilannya tidak menentu dan bergantung pada pekerjaan yang tersedia. Dulu ia sempat menanam jagung dan memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta setiap kali panen.
Namun serangan hama tikus yang berkepanjangan membuatnya menghentikan usaha tersebut sejak dua tahun terakhir.
Kini ia hanya mengandalkan kebun kakao yang sebagian baru mulai menghasilkan buah.
“Kalau dibilang cukup, mungkin tidak. Tapi kami syukuri apa yang didapatkan,” tuturnya.
Meski kondisi keluarganya diketahui pemerintah setempat, hingga kini Royan mengaku belum pernah mendapat bantuan pembangunan jamban maupun perbaikan rumah.
Padahal, dua kebutuhan itu menjadi hal paling mendesak bagi keluarganya.
“Kalau bisa pemerintah memperhatikan masyarakat kecil seperti kami untuk membantu membuatkan jamban,” harapnya.
Kisah Royan menjadi potret bahwa masih ada warga di Kabupaten Luwu yang hidup tanpa fasilitas sanitasi dasar dan tinggal di hunian yang tidak lagi layak. (*)








