PT Masmindo Cetak Desa Tangguh Bencana Kelima di Latimojong, Kadundung Kini Miliki Sistem Respons Darurat
LUWU, Trendify.id – Di tengah bentang pegunungan Latimojong yang dikenal memiliki kontur terjal dan rawan bencana, warga Desa Kadundung kini memiliki bekal baru untuk menghadapi situasi darurat.
Sirene simulasi terdengar memecah suasana desa. Sejumlah warga berlarian menuju titik kumpul, sementara yang lain mempraktikkan pertolongan pertama terhadap korban.
Di tangan mereka, kesiapsiagaan bukan lagi sekadar teori, melainkan keterampilan yang mulai menjadi budaya.
Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, resmi menyandang status Desa Tangguh Bencana (DESTANA) setelah mendapat pendampingan dari PT Masmindo Dwi Area (MDA) melalui Program Jaga Desa.
Program ini merupakan bagian dari pilar Jaga Keselamatan Desa yang dijalankan MDA bersama Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Kadundung menjadi desa kelima yang mendapatkan pendampingan DESTANA sejak program tersebut dimulai pada 2024. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di Desa Bonelemo, Ulusalu, Boneposi, dan Tolajuk.
Program tersebut lahir dari aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui Forum Desa MATAPPA (FORDES MATAPPA), sebelum diwujudkan menjadi upaya kolaboratif untuk memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.
Pendampingan dilakukan melalui pemetaan risiko, penyusunan mekanisme respons desa, pelatihan mitigasi, hingga simulasi penanganan kondisi darurat yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Di Desa Kadundung, masyarakat mendapat pembekalan mengenai mitigasi bencana, tata cara koordinasi saat kondisi darurat, serta penyusunan mekanisme respons desa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertolongan pertama yang dipandu tim PMI bersama Emergency Response Team (ERT) PT Masmindo Dwi Area.
Melalui simulasi tersebut, warga mempraktikkan penanganan korban, prosedur evakuasi awal, hingga koordinasi antarunsur desa saat menghadapi situasi darurat.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan operasional pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Bagi MDA, keselamatan tidak hanya menjadi budaya di lingkungan kerja, tetapi juga nilai yang ingin kami tumbuhkan bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional. Karena itu, melalui Jaga Keselamatan Desa kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat agar setiap desa memiliki kapasitas yang semakin baik dalam mengenali risiko, menyusun mekanisme respons, dan bertindak cepat ketika menghadapi kondisi darurat,” ujar Mustafa.
Ketua PUSPENA UNCP, Dr Ichwan Muis, menilai ketangguhan desa hanya dapat dibangun melalui proses pendampingan yang berkelanjutan.
“Ketangguhan desa tidak dibangun dalam satu pelatihan, tetapi melalui proses belajar, latihan, dan evaluasi yang dilakukan secara konsisten. Ketika masyarakat memahami risiko di wilayahnya, mengetahui peran masing-masing, dan terbiasa berlatih bersama, maka kemampuan desa dalam menghadapi bencana akan semakin kuat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Kadundung, Parambung, mengaku masyarakat merasakan manfaat langsung dari program tersebut.
“Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga kesempatan mempraktikkan langsung langkah-langkah penanganan darurat. Kegiatan seperti ini membuat masyarakat semakin memahami bagaimana harus bertindak, saling berkoordinasi, dan membantu sesama ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Bagi PT Masmindo Dwi Area, pembangunan desa tangguh bencana bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi sosial yang tumbuh bersama masyarakat.
Melalui Program Jaga Desa, perusahaan menargetkan semakin banyak desa di wilayah operasional memiliki sistem kesiapsiagaan yang mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi bencana yang mengintai kawasan pegunungan Latimojong. (*)








